Tampilkan postingan dengan label INTERNASIONAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INTERNASIONAL. Tampilkan semua postingan
Varian Baru Virus Corona Inggris 30 Persen Lebih Mematikan

Varian Baru Virus Corona Inggris 30 Persen Lebih Mematikan

Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan bahwa varian baru mutasi virus corona Inggris mungkin 30 persen lebih mematikan dibandingkan jenis sebelumnya.

Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan bahwa varian baru mutasi virus corona Inggris mungkin lebih mematikan dibandingkan jenis sebelumnya.

"Kami telah diberi tahu bahwa selain menyebar lebih cepat, sekarang juga tampaknya ada beberapa bukti bahwa varian baru mungkin lebih terkait dengan tingkat kematian yang lebih tinggi," kata Johnson dalam konferensi pers, Jumat (22/1).

Kepala Penasihat Ilmiah Patrick Vallance mengatakan bukti mengenai mutasi virus corona yang pertama kali ditemukan di London dan tenggara Inggris itu masih `belum kuat` karena berasal dari serangkaian informasi yang berbeda.

Lebih rinci, Vallance menguraikan bahwa pasien yang dirawat di rumah sakit dengan mutasi baru corona tampaknya tidak memiliki risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dirawat di rumah sakit dengan jenis virus sebelumnya.

Menurutnya, ketika dirawat di rumah sakit, pasien yang terpapar varian baru corona tidak memiliki risiko yang lebih besar. Namun ada tanda-tanda bahwa orang yang terinfeksi varian corona Inggris secara keseluruhan lebih berisiko.

"Tidak ada bukti nyata peningkatan mortalitas bagi pasien yang dirawat di rumah sakit. Namun, ketika dilihat dari segi data siapapun yang dites positif, ada bukti bahwa ada peningkatan risiko bagi mereka yang terpapar varian baru, dibandingkan virus lama," terangnya.

Peneliti dari NERVTAG (New and Emerging Respiratory Virus Threats Advisory Group), Neil Ferguson mengatakan jika varian baru ini kemungkinan 30 persen lebih mematikan jika menginfeksi orang tua. Hal itu lantaran varian baru corona Inggris lebih mudah menular.

"Kemungkinan yang realistis bahwa varian baru corona bisa lebih mematikan, tetapi masih ada banyak ketidakpastian. kami melihat adanya relasi antara risiko kematian bagi orang yang dinyatakan positif terinfeksi varian baru dibandingkan dengan jenis lama," ucapFerguson.

Mengutip Reuters, Vallance mengatakan bahwa untuk seorang pria berusia 60-an, risiko rata-rata adalah bahwa 10 dari 1.000 orang yang terinfeksi diperkirakan akan meninggal. Angka ini meningkat menjadi sekitar 13 atau 14 orang yang diperkirakan meninggal di usia itu dari 1.000 orang dengan varian baru virus corona.

"Saya ingin menekankan bahwa ada banyak ketidakpastian seputar angka-angka ini dan kami membutuhkan lebih banyak pekerjaan untuk mendapatkan penanganan yang tepat," ucapnya.

"Tetapi jelas ada kekhawatiran bahwa ini meningkatkan mortalitas serta risiko penularan."

Varian baru mutasi virus corona pertama kali terdeteksi di London dan tenggara Inggris, diyakini 40 hingga 70 persen lebih cepat menular dibandingkan virus sebelumnya.

Pada Jumat, Inggris melaporkan kenaikan angka kematian akibat Covid-18 bertambah 1.401 jiwa, meningkat dari sehari sebelumnya sebanyak 1.290 kematian. Secara total angka kematian akibat virus corona di Inggris mencapai 95.981.

Jumlah orang yang terinfeksi virus corona juga naik dalam 24 jam terakhir, bertambah 40.261 kasus baru. Total kasus Covif-19 di Inggris menjadi 3.583.907.

FBI Turun Tangan Cegah Penyusup Jelang Pelantikan Biden

FBI Turun Tangan Cegah Penyusup Jelang Pelantikan Biden

FBI dilibatkan membantu mencegah penyusup di antara pasukan yang dikerahkan mengawal pelantikan Presiden Terpilih, Joe Biden.

Biro Investigasi Federal (FBI) dilibatkan untuk membantu mencegah penyusup dan serangan di antara pasukan yang dikerahkan mengawal pelantikan Presiden Terpilih, Joe Biden.

Pelaksana tugas Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Christopher Miller, mengatakan FBI diminta membantu militer memeriksa latar belakang lebih dari 25 ribu pasukan Garda Nasional, yang akan dikerahkan ke Washington D.C., pada Rabu (20/1) mendatang.

Langkah itu dilakukan AS demi mengantisipasi ancaman keamanan dari "orang dalam", menyusul kerusuhan massa pendukung Presiden Donald Trump di Gedung Capitol Hill, Washington D.C, pada 6 Januari lalu.

Usai kerusuhan yang menyebabkan lima orang tewas itu, pemerintah AS memberlakukan pengamanan ketat yang belum pernah dilakukan terhadap gedung pemerintah, terutama Capitol Hill. Sejak kerusuhan itu, aparat keamanan telah memasang pagar pembatas dengan kawat berduri dan menerapkan zona steril dari masyarakat umum.

Melalui pernyataan pada Senin (18/1), Miller mengatakan bahwa pemeriksaan keamanan seperti itu adalah normal dilakukan menjelang acara sebesar pelantikan presiden.

"Pemeriksaan adalah normal sebagai dukungan terhadap militer untuk mengamankan peristiwa besar," kata Miller seperti dikutip Reuters.

Namun, Miller mengatakan sejauh ini intelijen AS tidak mendapatkan indikasi yang menunjukkan ada ancaman orang dalam terhadap keamanan menjelang pelantikan Biden.

"Kami tidak memiliki data intelijen yang menunjukkan akan ada ancaman orang dalam, tapi kami tidak menyepelekan dan melewatkan hal sedikit pun dalam mengamankan Ibu Kota Washington," ujar Miller menambahkan.

Secara terpisah, militer AS mengatakan bahwa pihaknya tengah bekerja sama dengan FBI untuk memeriksa apakah ada anggota aparat keamanan yang ikut dalam kerusuhan di Gedung Capitol Hill pada 6 Januari lalu.

Petugas Secret Service atau pasukan pengamanan presiden juga tengah mempertimbangkan apakah sebanyak 10 ribu pasukan Garda Nasional yang mengamankan pelantikan Biden memerlukan pemeriksaan tambahan.

Aparat keamanan AS memang telah memperketat pengamanan terutama terhadap gedung-gedung pemerintah di Washington D.C,

Aparat keamanan telah memblokir akses publik terhadap taman National Mall dan menutup jembatan Sungai Potomac yang menghubungkan Virginia dan Washington D.C.

Lebih dari belasan jadwal kereta bawah tanah juga akan berhenti selama proses pelantikan Biden. Setidaknya satu perusahaan bus juga menghentikan operasional dari dan ke Washington D.C beberapa hari sebelum pelantikan Biden.

Perusahaan Airbnb juga diminta membatalkan seluruh pemesanan kamar inap di area Washington D.C., mulai pekan ini.

Keluarga Korban Bom Bali Di Australia Tertekan Baasyir Bebas

Keluarga Korban Bom Bali Di Australia Tertekan Baasyir Bebas

PM Australia Scott Morrison mengatakan pembebasan Abu Bakar Bassyir membuat keluarga korban bom Bali merasa tertekan.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan keluarga dari 88 warganya yang menjadi korban Bom Bali 2002 akan merasa tertekan atas Abu Bakar Ba`asyir (ABB) yang telah bebas murni dari masa tahanan sebagai napi teroris hari ini, Jumat (8/1).

Sebab, Baasyir selama ini dituduh sebagai otak dibalik serangan Bom Bali I. Polri dan intelijen negara Barat mengatakan Baasyir terlibat dalam teror Bom Bali yang menewaskan 202 orang.

Namun, pria 82 tahun itu tidak pernah divonis terlibat secara langsung dalam serangan tersebut. Baasyir hingga kini pun membantah bagian dari pelaku Bom Bali.

"Ini belum jelas. Selama bertahun-tahun ini masih sangat kasar," kata Morrison di Canberra.

Morrison memperingatkan pemerintah Indonesia untuk terus memonitor Baasyir setelah bebas.

Morrison memaparkan Australia selalu menyerukan mereka yang terlibat dalam serangan Bom Bali untuk menghadapi hukuman yang lebih keras, proporsional dan adil. Namun, ia menegaskan tetap menghormati keputusan hukum yang telah diambil Indonesias.

"Kami telah menjelaskan melalui kedutaan kami di Jakarta terkait kekhawatiran yang kami miliki bahwa orang-orang seperti itu harus dicegaj untuk tidak menghasut orang lain," kata Morrison seperti dikutip Reuters.

Baasyir bebas dari Lapas Gunund Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hari ini. Baasyir dijemput putra dan kuasa hukumnya serta langsung dibawa pulang ke kediamannya di Ponpes Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Densus 88 (Antiteror Polri) dan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) juga ikut mengawal Baasyir pulang.

Ba`asyir divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 16 Juni 2011 karena terbukti terlibat dalam tindak pidana terorisme. Ia dinilai terbukti menjadi perencana dan penyandang dana pelatihan kelompok bersenjata di Pegunungan Jantho, Aceh pada 2010.

Baasyir telah menjalani 10 tahun bui dari vonis hukuman 15 tahun penjara akibat membentuk kelompok bersenjata tersebut. Masa tahanan itu telah dikurangi oleh remisi yang diberikan Presiden Joko Widodo.

KBRI Korut Rayakan Tahun Baru Dengan Menyalakan Api Unggun

KBRI Korut Rayakan Tahun Baru Dengan Menyalakan Api Unggun

KBRI di Pyongyang, Korea Utara, merayakan Tahun Baru dengan menyalakan api unggun di tengah musim dingin bersuhu minus 11 derajat Celcius.

Kedutaan Besar RI (KBRI) di Pyongyang, Korea Utara, untuk pertama kalinya merayakan Tahun Baru dengan menyalakan api unggun di tengah musim dingin bersuhu minus 11 derajat Celcius.

Duta Besar RI Korut, Berlian Napitupulu, mengadakan perayaan tersebut secara terbatas di lingkungan KBRI demi mencegah penularan Covid-19. Perayaan itu hanya dihadiri para staf dan keluarga besar KBRI.

Dalam rilis pers yang diterima CNNIndonesia.com, Sabtu (2/1), perayaan dibuka dengan makan malam bersama di ruangan dengan dekorasi lampu hias dan dua pasang Wayang Golek Indonesia di atas meja makan.


Selanjutnya, aktivitas perayaan diisi dengan sejumlah kegiatan, seperti permainan dan karaoke. Menjelang detik-detik pergantian tahun, semua tamu berkumpul di luar ruangan sembari menikmati api unggun dan bernyanyi bersama.

Berlian juga mengajak para staf dan keluarga KBRI untuk merenungkan pencapaian yang telah dilakukan sepanjang 2020. Ia menyampaikan betapa evaluasi diri untuk memasuki tahun yang baru.


"Saya mengajak kita untuk membayangkan sebuah timbangan. Jika timbangan ini digunakan untuk menimbang kebaikan dan kesalahan atau kejahatan kita, kira-kira mana yang paling berat? Inilah yang harus kita lakukan setiap akhir dan awal tahun," kata Berlian.

"C.K. Prahalad mengatakan,`If you don`t change, you don`t learn. If you don`t learn, you`ll die.Artinya, jika kita masih pakai cara berpikir lama, kita akan ketinggalan dan gagal menghadapi situasi mendatang."

Berlian berharap pada tahun-tahun mendatang, tradisi budaya Indonesia di luar negeri, khususnya di Korut, dapat terus berkembang walaupun ada keterbatasan akibat pandemi Covid-19.